Menurut Kantor Berita ABNA, ratusan warga Syiah Bahrain kembali melanjutkan demonstrasi dengan turun kejalan-jalan utama Negara itu untuk menuntut keadilan dan persamaan hak kepada penguasa kerajaan Sunni dan menuntut pula agar para tahanan politik segera dibebaskan karena pemenjaraan mereka tidak melalui prosedur hokum yang berlaku.
Gejolak massa menuntut keadilan di Bahrain telah berlangsung sejak 17 bulan lalu namun belum juga ada tanda-tanda penguasa Bahrain akan memenuhi tuntutan mayoritas warganya, bahkan yang terjadi adalah perlakuan keji dan tidak manusiawi terhadap para demonstran yang menuntut hak-haknya lewat aksi damai semakin menggila. Mengenai kasus kekerasan dan pembantaian massal warga Syiah di Bahrain oleh pihak keamanan yang pro rezim Ali Khalifah bisa dikatakan tidak mendapat perhatian publik dunia. AS dan Barat seakan menutup mata atas kejadian anti kemanusiaan dan anti demoksi di Bahrain namun penyikapan mereka berbeda dengan yang terjadi di Suriah. Atas nama kemanusiaan dan demokrasi, AS dan kubu Barat menuntut Bashar Asad mundur dari tampuk pimpinan.
Negara Barat seperti Inggris menyatakan dukungan sepenuhnya kepada pihak oposisi Suriah bahkan memberikan bantuan material sebanyak 5 juta pound dengan alasan demi penegakan nilai-nilai demokrasi di Suriah dengan menjatuhkan pemerintahan Bashar Asad yang mereka sebut otoriter. Namun hanya berjarak kurang dari seribu mil dari Suriah, gejolak serupa terjadi, mayoritas rakyat Bahrain menuntut Ali Khalifah mundur namun penyikapan Barat berbeda, mereka menutup mata dengan tuntutan rakyat yang hendak menegakkan demokrasi tersebut, bahkan hanya diam membisu melihat militer Bahrain yang dibantu oleh militer Arab Saudi membantai para pejuang HAM dan demokrasi di Negara tersebut.
Kekerasan dan anti kemanusiaan telah berlangsung di Bahrain setiap hari sejak Februari tahun lalu namun masyarakat duniapun turut buta mengenai hal tersebut. Penyiksaan dan kekerasan yang dilakukan militer Bahrain dan Arab Saudi terhadap para demonstran dengan menggunakan senjata barat telah menelan ratusan korban jiwa, dan sekitar 1600 orang yang dipenjarakan. Belum lagi yang mengalami cidera dan luka-luka yang akan ditanggungnya seumur hidup. Diantara para tahanan tercatat sekitar 600 anak-anak. Kekejian dan kekerasan tersebut masih berlangsung sampai saat ini di Negara yang hanya memiliki penduduk 1,5 juta jiwa tersebut.
Menurut catatan sejarah, Inggris dan Bahrain telah sejak lama memiliki kaitan erat. Bahkan disebut oleh beberapa pakar politik timur tengah, Bahrain adalah Negara boneka Inggris di kawasan. Bahrain juga termasuk Negara kelima pangkalan militer angkatan laut AS. Karenanya Inggris dan AS mempertahankan mati-matian rezim Ali Khalifah dan menjilat ludah mereka sendiri mengenai tegaknya nilai-nilai demokrasi.
Bukti adanya hubungan erat antara Bahrain dan Inggris adalah kehadiran Raja Bahrain pada acara ulang tahun ke 60 ratu Inggris di London. Dan adanya pertemuan dan pembicaraan antara para pejabat tinggi kedua Negara tersebut baik yang pertemuan yang terbuka maupun tertutup. Inggrispun dikabarkan memberikan bantuan 2 juta 200 ribu pound kepada penguasa Bahrain untuk semakin memperkukuh kekuasaannya.
Sangat disayangkan sebagian besar masyarakat dunia khususnya Indonesia, akibat rekayasa media-media Barat mengaitkan gejolak massa di kedua Negara tersebut dengan pertikaian mazhab. Menyebut demonstrasi rakyat Bahrain yang mayoritas Syiah adalah untuk menggulingkan raja Hamid Al Khalifah karena tidak ingin dipimpin oleh tokoh Sunni dan menyebut pembantaian yang dilakukan militer Bashar Asad ditujukan kepada warga Sunni. Padahal hakekat yang sebenarnya, Bashar Asad hendak dijatuhkan oleh AS dan Barat karena sikap politiknya yang pro kemerdekaan Palestina dan anti Zionis. Dan pada saat yang sama Inggris dan AS tetap mendukung dan mempertahankan kerajaan Bahrain karena sikap politik raja Bahrain yang pro kepentingan AS dan Barat meskipun itu dengan menginjak-injak nilai-nilai HAM dan demokrasi.
Foto-foto diantara korban kekejian militer Bahrain yang mendapat dukungan AS dan Inggris.

